Sabtu, 28 Juli 2012

Kemacetan Jalan Palembang-Inderalaya

Kali ini saya akan membahas mengenai kemacetan jalan Palembang-Inderalaya. Jalan tersebut adalah Jalan Negara yang berada dibawah tanggung jawab Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional III di Palembang. Jalan tersebut hanya terdiri atas satu lajur untuk tiap jalur.
Beda jalur dan lajur. Jalan di atas adalah 2 lajur untuk tiap jalur

Kalau dulu penyebab kemacetan yang terjadi hampir setiap hari adalah truk batubara. Tetapi sekarang penyebab kemacetan selain truk batubara, kendaraan angkutan yang melambat di depan Terminal Karyajaya, juga pengendara yang tidak sabaran dan ugal-ugalan, baik itu mobil pribadi ataupun travel.
Untuk pungutan yang dilakukan di terminal Karyajaya, selama ini menambah kemacetan parah kendaraan. Karena setiap kendaraan umum angkutan barang dan penumpang harus melambat untuk memberi pungutannya, dan antrian tersebut bisa mencapai ratusan kendaraan. Sekarang telah diupayakan untuk mengurai kemacetan depan terminal tersebut dengan mewajibkan truk batubara memutar di dalam terminal. Tetapi pada saat keluar dari terminal tidak diatur sama sekali. Jadi solusi tersebut tidak efektif.

Rute Simpang Musi 2 (A) - Simpang Timbangan (B) ---> Rute Neraka Rawan Macet

Jarak Palembang - Inderalaya adalah sekitar 32 km, dalam Matematika apabila kecepatan rata-rata mobil kita 60 km/jam maka jarak tersebut bisa ditempuh dalam waktu 32 menit, tetapi pada saat macet total harus ditempuh dalam 3 jam!

Kadangkala ditemui kemacetan yang parah tetapi tidak ada penyebab yang jelas seperti kecelakaan atau penutupan jalan. Fenomena tersebut diakibatkan bottleneck

Apa yang dimaksud dengan bottleneck? yaitu fenomena ketika material dengan volume besar melewati alur yang mengecil. Contohnya pada jam pasir. 
Apa hubungannya dengan lalu lintas? Hubungannya adalah ketika tidak ada kecelakaan atau penutupan jalan dalam teorinya seharusnya tidak ada kemacetan tetapi kenyataannya tidak. 
Hal pertama yang harus diingat adalah kecepatan kendaraan. Setiap kendaraan memiliki kecepatan yang berbeda. Kendaraan angkutan barang dengan tonase besar tentunya lebih lambat dibandingkan kendaraan kecil. Umpama tidak ada yang memotong ketika berjalan tentu tidak akan macet, akan tetapi...! kecepatan transportasi tentu akan bergantung pada siapa yang paling lambat di depan. Sebagai contoh: Fuso Batubara muatan penuh mencapai kecepatan terendah ketika akan melewati tanjakan misalnya jembatan, apabila semua kendaraan dibelakang tidak memotong, tentunya mereka harus mengikuti kecepatan Fuso tersebut? Hal tersebut tidak mungkin, kendaraan yang lebih cepat dibelakangnya tentu akan memotong untuk mempersingkat perjalanan mereka dan memperlancar transportasi.

Mitsubishi Fuso FN 527 ML (6x4) --> Fuso terbesar dengan 10 roda-->kecepatan maksimum 76 km/jam.
Bandingkan dengan Toyota Avanza yang bisa dipacu hingga 140 km/jam.

Apabila semua kendaraan yang lebih cepat telah memotong kendaraan yang lebih lambat, apa yang terjadi? yang tersisa dijalan hanya kendaraan yang lambat. Semakin lama akan semakin banyak. Mengapa? Untuk memotong kendaraan di depan kita, kecepatan kita harus lebih tinggi dan untuk satu lajur seperti jalan ini juga harus memperhitungkan kendaraan dari jalur lain agar tidak bertabrakan. Sesama kendaraan barang seperti Fuso, Trailer, truk kontainer,dsbnya tentu memiliki kecepatan yang hampir sama. Tidak mudah untuk kendaraan barang untuk saling memotong. Apabila kendaraan barang telah bertumpuk maka sulit juga untuk kendaraan yang lebih cepat untuk memotong karena lajur yang cuma satu.
Apa yang dapat disimpulkan? Lajur cepat dan lajur lambat seperti pada jalan tol adalah solusi. Semua kendaraan harus memotong dari kanan dan kembali ke kiri dengan catatan jarak antar kendaraan tidak boleh rapat. Dengan satu lajur ini tetap bisa diterapkan dengan buka tutup jalur sebelahnya.
Apabila kedua jalur saling potong maka akan buntu disatu titik (deadlock) dimana tidak ada yang bisa maju dan mundur. 
deadlock

Karena itu untuk jalan dengan lajur yang hanya satu, penting sekali mengatur buka tutup jalur sesuai volume kendaraan agar tidak ada kemacetan walaupun volume kendaraan sangat padat. Meskipun buka tutup jalur itu lebih efektif untuk jalan dengan 3 lajur atau lebih, karena salah satu jalur tidak terhenti (Pengalihan Jalur).
Ketika salah satu jalur terlalu padat maka jalur sebelahnya dibuka satu lajur dan dibalik arahnya untuk mengurangi kemacetan. Lebih efektif untuk jalan tanpa median jalan.

Solusi lain yang tidak selesai-selesai sampai sekarang adalah menambah lajur masing-masing jalur. Tapi semua solusi di atas tergantung pada kesadaran pengendara masing-masing. Tipikal pengendara disini mudah emosi dan tanpa perhitungan. Tentunya dengan infrastruktur yang apa adanya tipikal seperti itu sangat menambah kemacetan.

Dan untuk tambahan info gan... saat musim pancaroba (peralihan musim hujan ke kemarau atau sebaliknya), jalan di atas akan berkabut tebal saat pagi dan sore hari. Saat musim kemarau, kadang-kadang ada kebakaran lahan gambut di sekitar jalan tersebut yang asapnya menutupi jalan. Tapi hal tersebut tidak pernah mengakibatkan kecelakaan guys. Yang penting selalu berhati-hati dalam berkendara bro..! Selamat jalan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar